Agama Islam adalah agama universal
Barangkali sebagian dari umat Islam terkadang telah melupakan, atau seluruh umat manusia lainnya bahkan kurang memahami, misalnya:
Bahwa agama Islam adalah agama universal (bisa melewati batas waktu, ruang dan konteks budaya / bisa berlaku kapanpun, dimanapun dan bagi siapapun);
Bahwa agama Islam adalah agama yang tidak tergantung sejarah dan budaya umat manusia (bahkan termasuk para nabi-Nya). Walau para nabi-Nya memang berperan besar, dalam memberi segala contoh pemahaman dan pengamalannya, secara relatif sempurna (lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan);
Bahwa agama Islam adalah agama yang sesuai kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta ("tanda-tanda kekuasaan-Nya"), yang justru bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah);
Bahwa agama Islam adalah agama yang menyertai atau mengikuti perjalanan alam semesta, bahkan sampai akhir jaman.
Bahwa agama Islam adalah agama yang berbentuk rahmat-Nya bagi alam semesta, terutama dalam makin menyempurnakan pemahaman dan pengamalan seluruh umat manusia di dalamnya, tentang kebenaran-Nya di alam semesta;
Bahwa agama Islam adalah agama bagi seluruh umat manusia di muka Bumi (sama sekali bukan hanya semata bagi bangsa Arab ataupun umat Islam), agar sama-sama bisa kembali ke "agama-Nya yang lurus" ("jalan-Nya yang lurus");
Bahwa agama Islam adalah agama yang membawa kemuliaan dan keagungan, bagi seluruh umat manusia yang mengikutinya, di dunia dan terutama lagi di akhirat;
Bahwa agama Islam adalah agama yang sesuai segala "fitrah dasar" manusia;
Bahwa agama Islam adalah agama hasil perwujudan dari "Fitrah Allah" (sifat-sifat terpuji dan mulia Allah), secara 'tak-langsung'. Sedangkan perwujudan 'langsung'-nya berupa "agama-Nya yang lurus" di alam semesta (segala keredhaan-Nya bagi segala makhluk ciptaan-Nya, dan terkandung dalam "tanda-tanda kekuasaan-Nya");
Bahwa agama Islam adalah agama yang berdasar hasil usaha pengungkapan Nabi, atas "agama-Nya yang lurus" di alam semesta, yang juga telah dipelajari dari nabi ke nabi (bahkan juga dari umat ke umat), dari jaman ke jaman;
Bahwa agama Islam adalah agama yang terlahir berdasar segala pemahaman Nabi, yang relatif lengkap dan mendalam, dari segala hasil usaha mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta, sekaligus sambil dituntun oleh para malaikat Jibril. Begitu pula halnya, kelahiran agama-agama tauhid lainnya dari tiap nabi-Nya terkait;
Bahwa agama Islam adalah agama tauhid (selain agama Yahudi dan Nasrani), yang berasal dari sisi Allah (sesuai kebenaran-Nya di alam semesta);
Bahwa agama Islam adalah agama tauhid terakhir, yang juga paling lurus, lengkap dan sempurna, dibanding agama-agama tauhid lainnya (Yahudi dan Nasrani);
Bahwa agama Islam adalah agama yang sesuai tiap ilmu-pengetahuan hasil temuan manusia, yang diperoleh secara relatif amat 'obyektif', 'cermat' dan 'mendalam', dalam mengamati dan mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta;
Semua keterangan pada poin-poin di atas, tentunya hanya berupa rangkuman yang amat ringkas. Sedangkan uraian dan penjelasannya yang lebih lengkapnya bisa dibaca pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW".
Lalu dari semua keterangan di atas, justru juga menimbulkan berbagai pertanyaan atau persoalan yang amat penting, seperti misalnya:
Agama Islam yang 'bagaimana' atau 'semacam apa' bentuknya, yang bisa ideal atau sempurna (bisa berlaku 'universal' dan juga sekaligus berlaku 'aktual', bahkan sampai akhir jaman)?.
Sifat 'universal' dan 'aktual' memang relatif 'saling bertentangan', namun bagaimana cara menyatukan atau mengaitkan, antara hal-hal yang bersifat 'universal' dan yang bersifat 'aktual', dalam ajaran agama Islam?.
Apakah pemahaman dan pengamalan umat Islam saat ini, atas ajaran agama Islam, telah ideal atau sempurna (pemahamannya bersifat 'universal' dan pengamalannya bersifat 'aktual')?;
Apakah umat Islam saat ini telah memahami ajaran agama Islam, 'sesuai' dengan pemahaman Nabi, atas keseluruhan wahyu-Nya yang telah diperolehnya (memahami secara relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan)?;
Apakah umat Islam saat ini telah benar-benar mengenal agama Islam?, termasuk bagaimana cara agama Islam dan agama-agama tauhid lainnya, diturunkan-Nya? dan apa kaitan antara "seluruh agama tauhid", "agama-Nya yang lurus" (terkandung dalam "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta) dan "Fitrah Allah"?;
Berbagai pertanyaan atau persoalan itu akan dicoba dijawab, melalui uraian-uraian ringkas di bawah. Namun jawaban dan penjelasan yang lebih lengkapnya bisa dibaca pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW".
Penting diketahui, bahwa "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta terkadang disebut sebagai "wajah-Nya", "segala kebenaran atau pengetahuan-Nya", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "sabda, firman, kalam atau wahyu-Nya yang sebenarnya" atau sebagai "Al-Qur'an dan kitab-kitab-Nya lainnya yang berbentuk 'gaib', yang tercatat dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya".
Semua sebutan ini hanya berbeda fokus, sudut pandang atau konteks pemakaian masing-masing, namun merujuk kepada sesuatu hal yang sama, berupa "segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta".
Baca pula artikel "Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dan keragaman kandungan isinya".
Dalil-dalil naqli, bahwa agama Islam adalah agama universal
Istilah 'universal' tentunya sama sekali tidak ada dalam kitab suci Al-Qur'an, karena memang berasal dari bahasa Inggris, dan terkait dengan 'alam semesta' ('universe'). Tetapi dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an justru amat banyak disebut 'alam semesta' ('semesta alam', 'sekalian alam', 'seluruh alam', 'langit dan Bumi', 'segala sesuatu', dsb).
Tentunya juga termasuk amat banyak disebut, segala hal yang terkait dengan 'alam semesta', seperti: "bukti-bukti nyata", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "tanda-tanda kekuasaan-Nya", "langit", "bintang", "gugusan bintang (galaksi)", dsb. Bahkan semua ayat seperti ini ada ratusan jumlahnya.
Lebih penting lagi, hampir semua ayat ini disertai dengan segala anjuran-Nya, agar umat Islam bisa banyak mengamati, mempelajari, memikirkan dan memahami penciptaan alam semesta, beserta segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di dalamnya. Ayat-ayat seperti ini tentunya sekaligus telah menunjukkan, bahwa kaitan antara 'agama tauhid' dan 'alam semesta', memang amat dekat.
Bahkan suatu agama tauhid justru terlahir berdasar seluruh pemahaman, pada tiap nabi-Nya terkait (seluruh wahyu-Nya), dari segala hasil usahanya yang relatif amat keras dan maksimal, dalam mengamati, meneliti dan mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di 'alam semesta' ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" / "segala kebenaran-Nya"), sekaligus sambil dituntun oleh para malaikat Jibril.
Tentunya untuk memahami hal di atas, umat Islam mestinya telah memahami pula, "bagaimana cara proses diturunkan-Nya wahyu, kepada para nabi-Nya?", serta termasuk, "bagaimana transfomasi perubahan bentuk wahyu-Nya, sejak dari Allah 'langsung', ke para malaikat Jibril, ke para nabi-Nya, sampai ke bentuk yang diterima umat para nabi-Nya?". Kedua hal inipun telah dijawab cukup lengkap, dalam artikel "Cara proses diturunkan-Nya wahyu" dan "Wahyu dan kitab-Nya memiliki 4 macam bentuk".
Penting diketahui, bahwa "wahyu-Nya yang sebenarnya, dan berasal 'langsung' dari Allah, adalah 'alam semesta'". Sedangkan tiap bentuk wahyu-Nya selanjutnya (pada para malaikat Jibril, pada pikiran para nabi-Nya dan pada Al-Kitab), justru hanya berasal dari hasil pemahaman, atas kebenaran-Nya di 'alam semesta'. Ringkasnya, bentuk wahyu-Nya pada malaikat Jibril berupa tiap ilham yang positif-benar-baik, pada pikiran para nabi-Nya berupa tiap pemahaman Al-Hikmah, dan pada Al-Kitab berupa tiap ayatnya.
Selain itu, dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an juga banyak disebut, seperti:
"Tiap nabi-Nya bisa saling membenarkan wahyu dan kitab-Nya pada para nabi-Nya lainnya" (QS.5:48, QS.2:41, QS.2:89, QS.2:91, QS.2:97, QS.2:101, QS.3:3, QS.4:47, QS.6:92, QS.10:37, QS.12:111, QS.35:31, QS.46:12, QS.46:30, QS.37:37 dan QS.3:81).
"Tauhid pada keseluruhan para nabi-Nya relatif 'sama', seperti 'Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa'" (QS.40:62, QS.27:26, QS.37:35, QS.40:3, QS.40:65, QS.59:22-23, QS.73:9 dan QS.11:84).
Hal ini menunjukkan, bahwa para nabi-Nya memang telah bisa memahami nilai-nilai universal yang 'sama', dari hasil mempelajari alam semesta yang 'sama', sekalipun antar para nabi-Nya justru tidak saling bertemu atau muncul terpisah selama berabad-abad.
"Islam, Al-Qur'an dan nabi Muhammad saw, adalah agama, kitab dan nabi-Nya bagi 'seluruh umat manusia'" (QS.12:38, QS.5:3, QS.3:138, QS.16:44, QS.68:52, QS.34:28 dan QS.4:79).
"Nabi Muhammad saw menjadi saksi bagi 'seluruh umat manusia' di Hari Kiamat" (QS.16:89 dan QS.22:78).
Hal ini menunjukkan, bahwa ajaran agama Islam 'mestinya' bisa berlaku 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang dan konteks budaya / bisa berlaku kapanpun, dimanapun dan bagi siapapun), bahkan termasuk juga 'mestinya' berlaku bagi seluruh umat manusia 'terakhir', di akhir jaman.
Namun tentunya juga tidak perlu 'dipaksakan', menjadi "'seluruh umat manusia' ini termasuk seluruh umat manusia 'sebelum' kemunculan Nabi".
"Tiap-tiap umat memiliki syariatnya masing-masing" (QS.22:67, QS.42:13 dan QS.45:18).
"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan (untuk melaksanakan) penyembelihan (kurban). …" (QS.22:34).
Hal ini menunjukkan, bahwa syariat yang telah diajarkan oleh para nabi-Nya, memang bisa berbeda-beda, dari jaman ke jaman (sesuai perkembangan keadaan umat atau jamannya masing-masing). Walau ada sebagian syariat, yang juga bersifat 'universal' (tetap terus berlaku / tetap serupa dari umat ke umat, dari jaman ke jaman).
Namun tentunya juga tidak perlu 'dipaksakan', menjadi "syariat bagi umat Nabi pada abad sekarang, abad 30, abad 100, saat akhir jaman, dsb, harus persis 'sama' dengan syariat bagi umat Nabi, pada jaman Nabi".
Umat Islam mestinya memahami prinsip dan tujuan dasar dari timbulnya suatu syariat.
Syariat bukan tergantung nabi pembawanya, tetapi tergantung perkembangan keadaan kehidupan umat nabi itu sendiri (tiap nabi menyesuaikan syariatnya, dengan keadaan kehidupan umatnya, agar bisa mudah dipahami dan diamalkannya).
Wahyu-Nya dan syariat bukan diturunkan atau diperintahkan-Nya dengan 'begitu saja', namun semuanya justru melalui segala proses yang amat 'alamiah'.
Dsb.
Ayat-ayat dan uraiannya di atas tentunya hanya untuk menunjukkan 'universalitas' dari ajaran agama Islam, secara ringkas. Uraian yang lebih lengkapnya bisa dibaca pada blog ini, terutama dari buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW".
Istilah 'universal' dan 'plural' sekilas serupa, tetapi berbeda
Dalam kamus, tentunya istilah 'universal' memang berbeda daripada istilah 'plural', walau di dalam pemakaiannya sekilas tampak serupa. Istilah 'universal' bermakna "umum (berlaku bagi semua orang / seluruh dunia); bersifat melingkupi seluruh dunia" dan istilah 'plural' bermakna "jamak; majemuk; lebih dari satu".
Hal ini amat perlu ditekankan kembali perbedaannya, selain untuk bisa mengurangi kecurigaan umat Islam atas istilah 'universal', khususnya lagi akibat telah makin maraknya gerakan pluralisme dalam kehidupan beragama. Jika di jaman dahulu, gerakan pluralisme misalnya telah bisa melahirkan aliran-aliran besar, dalam agama Islam (termasuk aliran Sunni dan Syiah), dari berbagai aliran pemikiran ilmu kalam ataupun ilmu fiqih yang lebih kecil. Maka persoalan mulai timbul pada saat ini, dari gerakan pluralisme yang telah makin meluas, menjadi "antar / lintas agama".
Pluralisme memang bukan hal yang baru atau asing, dalam agama Islam. Dimana semua aliran pemikirannya telah menetapkan berbagai prinsip dasar 'bersama' (terutama pada tauhid atau syahadatnya), yang tidak boleh dilanggar. Sedangkan hal-hal yang di luar berbagai prinsip dasar itu, masih dibolehkan ada perbedaan antar umat. Namun pluralisme dalam hal-hal 'ketuhanan', 'kebenaran' dan 'keyakinan', justru menjadi persoalan (bahkan termasuk pluralisme 'kebenaran' dan 'keyakinan' antar umat Islam, dalam 'suatu' aliran).
Padahal telah disebut di dalam kitab suci Al-Qur'an, "bahwa manusia memang tidak dijadikan-Nya 'satu umat' (satu agama dan pemikiran), sebagai bentuk ujian-Nya baginya" (QS.5:48, QS.16:93, QS.42:8 dan QS.10:19). Dengan fitrah dasar manusia yang cenderung saling berselisih (akibat diciptakan-Nya nafsu-keinginannya), sehingga gerakan pluralisme 'antar agama' itu berupa langkah yang mustahil dan pasti sia-sia. Hal inipun serupa dengan kemustahilan, untuk menyatukan keyakinan dan pemikiran antar umat Islam sendiri.
Lebih tepat, jika gerakan pluralisme 'antar agama' itu bukan terarah, untuk saling mengakui, menyetujui atau membenarkan, atas tiap 'keyakinan' yang dimiliki oleh masing-masing agama. Tetapi gerakan itu mestinya hanya terarah, untuk bisa mengurangi segala perselisihan atau konflik antar agama, yang benar-benar tidak perlu (diawali kasus kecil / tanpa ada kezaliman dari suatu pihak), yang justru pasti merugikan semua pihak. Dengan kata lain, gerakan itu mestinya hanya untuk bisa meningkatkan toleransi atau kesadaran, "bahwa segala perbedaan / pluralitas antar manusia, adalah bentuk kehendak-Nya (bagian dari sunatullah), untuk menguji keyakinan atau keimanannya masing-masing".
Sekali lagi, dalam gerakan itu sama sekali tidak perlu atau tidak bermanfaat, untuk membicarakan 'keyakinan' dari masing-masing agama. Jika hal inipun terjadi, justru hanya pihak atau agama yang paling berpengaruh di dalamnya, yang paling diuntungkan, sebagai sarana bagi penyebaran agamanya. Apalagi dasar acuan bagi gerakan itu justru tidak ada, semua bersifat relatif, amat tergantung kekuatan tarik-menarik kepentingan antar pihak. Bahkan pembicaraan seperti ini hanya makin mengaburkan keyakinannya masing-masing, serta ada pihak yang diuntungkan dari pengaburan itu sendiri. Padahal telah jelas disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, "untukmu agamamu, untukku agamaku" (QS.109:6).
Di lain pihak, jauh lebih penting bagi umat Islam (termasuk bagi penggagas gerakan pluralisme 'antar agama' itu), untuk bisa makin banyak mengungkap nilai-nilai 'universal' (Al-Hikmah), yang terkandung dalam ajaran agama Islam, yang juga makin kokoh-kuat segala dalil-alasan-hujjah dan makin lengkap penjelasannya. Melalui usaha pengungkapan seperti ini, selain keyakinan umat Islam sendiri justru bisa makin kokoh-kuat, atas ajaran agama Islam. Bahkan umat penganut agama-agama lainnya juga bisa ikut mengakuinya, karena nilai-nilai 'universal' itu memang relatif amat sulit bisa dibantahnya.
Nilai-nilai 'universal' (Al-Hikmah) itu bisa diperoleh dengan mengaitkan, antara teks ajaran agama Islam, dan hasil pemahaman atas "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta. Sedangkan "tanda-tanda kekuasaan-Nya" itu sendiri bersifat 'mutlak' dan 'kekal', serta memang hanya hasil dari segala perbuatan Allah, Yang Maha Kuasa dan Maha Kekal.
Maka sesuatu hal yang bersifat 'universal' memang memiliki dasar acuan yang jelas (bersifat 'mutlak' dan 'kekal'), dan pasti berasal dari Allah. Nilai-nilai 'universal' justru pasti berlaku bagi segala sesuatu hal di alam semesta, mau diakui ataupun tidak. Hal ini memang berbalikan dengan 'pluralisme' di atas, yang tanpa memiliki dasar acuan yang jelas (bersfat 'relatif' dan 'fana'), dan pasti berasal dari manusia, meskipun 'pluralitas' justru pasti berasal dari Allah. Nilai-nilai 'pluralisme' berlaku terbatas, hanya bagi sebagian manusia yang mau mengakuinya. Agama bukan hasil 'pluralisme', 'demokratisme' dan 'budaya manusia', tetapi berdasar hasil pemahaman para nabi-Nya, atas nilai-nilai 'universal' di alam semesta.
Walau diakui, memang relatif amat sulit, untuk bisa memahami nilai-nilai 'universal' (Al-Hikmah), serta di jaman dahulu relatif hanya dicapai oleh para nabi-Nya. Sedangkan di jaman sekarang ini, umat Islam telah relatif dipermudah dalam memahaminya, khususnya dengan memulai mengacu dari kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi, yang memang penuh 'mengandung' Al-Hikmah di dalamnya (QS.3:58, QS.10:1, QS.31:2, QS.36:2, QS.43:4 dan QS.44:4). Selain itu, tentunya umat Islam juga mestinya amat berilmu-pengetahuan, dari mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta (lahiriah dan batiniah).
Baca pula artikel "Metode pencapaian pemahaman Al-Hikmah".
Hampir seluruh agama di dunia memang membenarkan adanya nilai-nilai 'universal' di alam semesta, yang berasal dari Tuhan Pencipta alam semesta, seperti misalnya disebut dalam 'universalisme' (universalism) pada Wikipedia. Termasuk melalui segala pengajaran dalam seluruh agama itu, tentang berragam 'kebaikan' atau 'etika' yang bersifat 'universal'. Tetapi amat ironisnya, pembenaran ini justru juga hanya berlaku 'parsial' (sebagian / tidak utuh / sepotong-sepotong).
Contoh sederhananya, ke-Maha Esa-an Tuhan (tauhid), adalah nilai yang bersifat 'universal', dan bahkan diakui oleh hampir seluruh agama. Namun pada sebagian agama itu justru juga sekaligus tetap berlaku 'musyrik' (menyekutukan Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Pencipta alam semesta / memiliki 'banyak' Tuhan), diakui ataupun tidak.
Maka umat Islam (terutama Majelis alim-ulamanya) justru mestinya bisa memiliki segala dalil-alasan-hujjah dan segala penjelasannya, yang kokoh-kuat dan lengkap, tentang ke-Maha Esa-an Allah (tauhid), serta sekaligus bisa membantah dengan kokoh-kuat pula, atas segala bentuk kemusyarikan (menyekutukan Allah). Hal ini juga amat penting, untuk makin memperkuat keyakinan umat Islam sendiri, atas ajaran agama Islam.
Contoh sederhananya, telah jelas disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, "Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan" (QS.112:1 & 3). Namun juga umat Islam mestinya bisa memahami segala kemustahilan dan kerugian, pada keterangan seperti, "manusia adalah anak Tuhan". Sebaliknya sekaligus bisa memahami kenapa justru disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, "manusia adalah khalifah-Nya" (bukan anak Tuhan).
Ayat-ayat Al-Qur'an bersifat ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual
Seperti disebut di atas, bahwa tiap ajaran agama Islam justru mestinya berlaku 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang dan konteks budaya / berlaku kapanpun, dimanapun dan bagi siapapun). Hal ini karena ajaran agama Islam (terutama kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah / Hadits Nabi), justru berdasar seluruh pemahaman Nabi, tentang kebenaran-Nya di alam semesta (seluruh wahyu-Nya yang berupa Al-Hikmah dan bersifat 'unversal'), yang telah diperolehnya melalui perantaraan para malaikat Jibril.
Namun ketika 'rangkuman' dari seluruh pemahaman Al-Hikmah pada Nabi, justru disampaikan atau diungkapkan kepada umat-umatnya (menjadi wahyu-Nya yang berupa tiap ayat Al-Kitab), relatif hampir pasti 'terlingkupi' dalam batas waktu, ruang dan konteks budaya umat. Termasuk bentuk penyampaiannya relatif hampir pasti menghadapi segala keterbatasan bahasa lisan dan tulisan, sekaligus keterbatasan alat tulis-menulis di jaman dahulu (batu tipis; pelepah kurma; tulang; kulit kayu; kulit dan tanduk binatang; dsb).
Sedangkan sebagian terbesar dari umat-umat Nabi (umat-umat yang awam) justru jauh lebih memerlukan bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya, yang bersifat relatif ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, untuk bisa menjawab segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan beragamanya sehari-hari. Relatif hanya umat-umat yang telah amat berilmu saja, yang memerlukan pemahaman yang lengkap dan mendalam, atas wahyu-wahyu-Nya pada Nabi (Al-Hikmah), bagi peningkatan keimanannya.
Baca pula topik "Keterbatasan bahasa tulisan dalam penyampaian wahyu-Nya".
Tidak mengherankan, apabila teks ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an justru cenderung relatif amat pendek, ringkas, sederhana dan padat. Kandungan isinya juga dipengaruhi oleh konteks keadaan di jaman Nabi, lingkup di sekitar Jazirah Arab, serta keadaan budaya dan bahasa bangsa Arab, terutama agar umat relatif mudah memahami dan mengamalkannya. Padahal 'di balik' teks ayat-ayatnya justru amat banyak mengandung 'nilai-nilai universal', dari ajaran agama Islam ('Al-Hikmah' / hikmah dan hakekat kebenaran-Nya). Seluruh Al-Hikmah inipun dipahami oleh Nabi dan para pengikut terdekatnya yang amat berilmu, beserta segala dalil-alasan-hujjah dan segala penjelasannya, yang kokoh-kuat dan lengkap.
Sedangkan dari sifat-sifatnya, tentunya Sunnah Nabi (ataupun Hadits Nabi sebagai bentuk tertulisnya) justru relatif serupa dengan ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an itu sendiri. Sunnah / Hadits Nabi justru bukan bentuk Al-Hikmah yang sebenarnya (seperti anggapan pada sebagian umat Islam), tetapi tetap hanya berupa Al-Hikmah yang terungkap, secara relatif ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual. Sunnah / Hadits Nabi hanya berupa contoh dan penjelasan pengamalan langsung, atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an.
Bentuk ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an dan Hadits-hadits Nabi, yang memang relatif amat pendek, ringkas, sederhana dan padat (bentuk pengungkapan atas hasil 'rangkuman' dari seluruh pemahaman Al-Hikmah, di dalam dada-hati-pikiran Nabi), juga lebih mudah bisa dipahami dari fakta atau kenyataan, bahwa segala hal yang paling penting, hakiki dan mendasar di dalam kehidupan seluruh umat manusia, yang rumit, lengkap dan mendalam, justru terungkap 'hanya' melalui 6236 ayat kitab suci Al-Qur'an dan puluhan ribu Hadits. Padahal pengungkapan secara lengkap, atas seluruh pemahaman Al-Hikmah pada Nabi, justru bisa memerlukan ratusan buku tebal.
Segala pemahaman Al-Hikmah = penjaga 'universalitas' ajaran agama Islam
Tiap Al-Hikmah itu sendiri justru bersifat relatif kompleks, rumit, mendalam, tidak praktis-aplikatif dan universal (tidak aktual), termasuk memiliki segala dalil-alasan-hujjah yang kokoh-kuat dan segala penjelasannya yang lengkap. Sehingga tiap Al-Hikmah relatif amat sulit terbantah kebenarannya, oleh umat-umat yang amat berilmu sekalipun.
Di lain pihak, tiap Al-Hikmah justru relatif amat sulit bisa dipahami oleh umat-umat pada umumnya (umat-umat yang awam). Serta segala pemahaman Al-Hikmah ini, justru bisa menjaga 'universalitas' dari ajaran agama Islam, bahkan sampai akhir jaman.
Agar ajaran agama Islam tetap bisa berlaku relatif ideal atau sempurna, bahkan sampai akhir jaman, tentunya amat perlu usaha pengungkapan kembali segala Al-Hikmah, 'di balik' teks-teksnya. Idealnya jika segala Al-Hikmah itu tidak terpisah-pisah, tetapi telah tersusun membentuk 'bangunan pemahaman', yang relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhan.
Serta 'bangunan pemahaman' seperti ini mestinya bisa dimiliki oleh para alim-ulama (terutama yang berada di dalam Majelis alim-ulama pada tiap negeri dan jamannya), yang memang telah diwarisi 'tugas-peran' dan 'ajaran' para nabi-Nya.
Baca pula artikel "Metode pencapaian pemahaman Al-Hikmah".
Segala hasil ijtihad = penjaga 'aktualitas' ajaran agama Islam
Dengan berdasar segala pemahaman Al-Hikmah yang diperoleh, Majelis alim-ulama pada tiap negeri dan jamannya lalu bisa melahirkan segala hasil ijtihad, yang bersifat relatif amat ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, terutama agar bisa menjawab segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan beragama umat sehari-hari. Hal ini justru relatif serupa, dengan penyampaian yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya.
Baca pula artikel "Pola penyampaian pengajaran-Nya sepanjang masa".
"Tiap hasil ijtihad dari para nabi-Nya" disampaikannya melalui Sunnah-sunnahnya, berdasar seluruh wahyu-Nya (berupa Al-Hikmah), di dalam dada-hati-pikirannya masing-masing, yang telah diperolehnya melalui perantaraan para malaikat Jibril. Tiap sunnah itu disampaikan, terutama agar bisa mengatasi persoalan pengamalan umat.
Namun ada pula yang disampaikannya melalui tiap kitab tauhid (Al-Kitab), sebagai suatu sumber pengajaran dan tuntunan-Nya, yang telah bisa tersusun relatif amat lengkap dan sempurna, juga sekaligus sebagai dasar paling pokok dari keseluruhan ajarannya. Tiap kitab tauhid itu disampaikan, terutama agar bisa mengatasi persoalan pemahaman umat.
Sekali lagi, kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Nabi, pada dasarnya justru juga bentuk 'hasil ijtihad', walau memang berasal langsung dari Nabi sendiri, dan telah tersusun relatif amat lengkap dan sempurna. Sedangkan segala hasil ijtihad dari Majelis alim-ulama, relatif jauh dari kelengkapan dan kesumpurnaan itu. Serta segala hasil ijtihad dari Majelis alim-ulama, pada tiap negeri dan jamannya itu, justru bisa menjaga 'aktualitas' dari ajaran agama Islam, bahkan sampai akhir jaman.
Perbedaan usaha antara para nabi-Nya dan manusia biasa lainnya
Siklus proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya justru relatif serupa dari nabi ke nabi, dari umat ke umat dan dari jaman ke jaman, serta letak perbedaannya relatif amat sedikit. Al-Hikmah pada para nabi-Nya relatif sebagian besarnya diperoleh dari hasil mempelajari langsung "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta. Sedangkan relatif amat sedikit diilhami dari risalah-risalah para nabi-Nya terdahulu.
Di lain pihak, Al-Hikmah pada umat manusia biasa lainnya relatif sebagian besarnya diilhami dari risalah-risalah para nabi-Nya. Sedangkan relatif amat sedikit diperoleh dari hasil mempelajari langsung "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta. Pengungkapan hasil rangkuman atas segala Al-Hikmah, secara relatif ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, oleh para nabi-Nya disebut sebagai 'kitab tauhid' dan 'Sunnah', sedangkan oleh umat manusia biasa lainnya hanya disebut sebagai 'hasil ijtihad'.
Baca pula artikel "Pola penyampaian pengajaran-Nya sepanjang masa".
Sedangkan tiap Al-Hikmah dan hasil pengungkapannya (tiap ayat kitab tauhid) dari para nabi-Nya sama-sama pantas disebut sebagai 'wahyu-Nya', karena telah bisa tersusun relatif sempurna (relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan), di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya dan di dalam kitab tauhid, khususnya tentang segala hal yang paling penting, hakiki dan mendasar, dalam kehidupan beragama seluruh umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah).
Di lain pihak, tiap Al-Hikmah dan hasil pengungkapannya dari umat manusia biasa lainnya, 'tidak pantas' disebut sebagai 'wahyu-Nya', karena memang relatif amat 'jauh' dari kesempurnaan pada para nabi-Nya (relatif belum menjawab segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan beragama seluruh umat manusia, secara sempurna).
Baca pula artikel "Cara proses diturunkan-Nya wahyu" dan "Wahyu dan kitab-Nya memiliki 4 macam bentuk".
Tiap wahyu-Nya adalah satu-kesatuan yang tersusun 'utuh' dan 'sempurna', dengan 'seluruh' wahyu-Nya pada tiap nabi-Nya (tidak berdiri-sendiri atau terpisah). Dan ukuran kesempurnaan ini tentunya bersifat relatif, tergantung tingkat keyakinan umat atas wahyu dan kenabian. Ukuran-ukuran di atas (kelengkapan, kedalaman, konsistensi, keutuhan dan pertentangan) hanya sebagai contoh dan tentunya hanya menurut penilaian relatif penulis.
Pengungkapan segala Al-Hikmah pada buku "Menggapai Kembali"
Dengan semangat dan harapan, agar bisa menjaga 'universalitas' dari ajaran agama Islam (khususnya kitab suci Al-Qur'an), maka penulis sendiri telah berusaha semaksimal mungkin, untuk bisa mengungkap berbagai Al-Hikmah, 'di balik' teks-teksnya, serta telah diungkap relatif amat lengkap pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (setebal ±1460 halaman) ataupun pada "ringkasan bukunya".
Seluruh pengungkapan inipun didukung oleh ±2900 ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, untuk memperkuat seluruh dalil-alasan-hujjahnya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi umat Islam dan para alim-ulama khususnya, serta bagi umat manusia umumnya. Amien.
Berbagai Al-Hikmah itupun tentunya bukan bentuk pemahaman yang 'paling benar' atau 'pasti benar', di antara berbagai Al-Hikmah yang terkait, yang telah dimiliki oleh umat Islam lainnya. Namun hal yang paling pentingnya bagi tiap umat Islam, untuk bisa terus-menerus berusaha mencari Al-Hikmah yang 'makin benar' (makin kokoh-kuat segala dalil-alasan-hujjah dan makin lengkap segala penjelasannya).
Maka segala kritik dan saran dari para pembaca justru amat diharapkan, dan Insya Allah, selalu diterima dengan tangan terbuka, agar secara bersama bisa diperoleh seluruh Al-Hikmah, yang 'makin mendekati' pemahaman Nabi yang relatif sempurna, atas wahyu-wahyu-Nya yang telah diperolehnya (relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhan).
Amat diharapkan lagi, agar tiap kritik dan saran itu bisa disertai pula dengan segala dalil-alasan-hujjah dan penjelasannya, baik yang membantah, maupun yang memperkuat pemahaman dalam buku penulis itu. Sehingga tidak hanya semata mengarah kepada debat kusir yang tanpa ujung-pangkalnya, serta hanya semata berupa saling klaim, tentang siapa yang 'benar' dan siapa yang 'sesat'. Tetapi diharapkan bisa terjadi dialog atau tukar-pikiran yang sehat dan obyektif, serta mengarah kepada peningkatan keimanan secara bersama.
Atas ijin Allah, tiap umat Islam pada dasarnya pasti selalu berkeinginan, untuk bisa makin menyempurnakan tiap pemahamannya tentang kebenaran-Nya dan juga pasti tidak berkeinginan untuk sengaja menyesatkan dirinya sendiri. Hal yang biasanya terjadi, relatif hanya adanya berbagai keterbatasan pengetahuan pada masing-masing umat, yang justru menjadikannya bisa tersesat, terutama lagi apabila umat terlalu bersikap memaksakan diri atau berlebihan, dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Padahal segala bentuk pengetahuan manusia, bahkan termasuk pula para nabi-Nya, memang pasti bersifat 'relatif' dan 'terbatas'. Namun seluruh pengetahuan para nabi-Nya tentang kebenaran-Nya, memang relatif paling sempurna di antara seluruh umat manusia, pada tiap jamannya masing-masing. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Benar.
'Universalitas' + 'aktualitas' ajaran agama Islam = 'Al-Hikmah' + 'hasil ijtihad'
Sekali lagi, dengan berdasar segala Al-Hikmah yang telah bisa diperoleh, lalu Majelis alim-ulama pada tiap negeri dan jaman, bisa melahirkan segala hasil ijtihad, sesuai segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan beragama umat sehari-hari.
Hal ini mestinya relatif hanya dilakukan oleh Majelis alim-ulama (bukan alim-ulama secara perseorangan), karena tiap hasil ijtihad memang menyangkut kehidupan beragama seluruh umat. Juga tiap alim-ulama memang hampir mustahil bisa mengatasi sendiri, atas segala persoalan pada umatnya dan pada dirinya sendiri.
Serta relatif hanya melalui gabungan antara segala Al-Hikmah (nilai-nilai universal 'di balik' teks-teks ajaran agama Islam) dan segala hasil ijtihad dari Majelis alim-ulama, yang bisa tetap menjaga 'universalitas' dan 'aktualitas' dari ajaran agama Islam, bahkan sampai akhir jaman. Sedangkan ajaran agama Islam memang bukan hanya semata bagi umat-umat di jaman dahulu, namun juga bagi seluruh umat manusia, sampai akhir jaman.
Kembali ke kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah Nabi = kembali ke Al-Hikmah-nya
Pernyataan "kembali kepada kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Hadits Nabi)" mestinya berupa anjuran, agar pemahaman dan pengamalannya bisa sesuai dengan makna yang sebenarnya, 'di balik' teks-teksnya (Al-Hikmah-nya), ataupun sesuai dengan hal yang sebenarnya dimaksud atau dipahami oleh nabi Muhammad saw, atas tiap ajarannya itu. Hal ini tentunya diperlukan pemahaman yang relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhan, berdasar segala kitab, risalah, catatan dan keterangan terkait, agar bisa diperoleh makna yang sebenarnya, atas tiap ajarannya.
Apalagi segala Al-Hikmah yang tertanam di dalam dada-hati-pikiran tiap nabi-Nya terkait, yang memang pasti mendasari tiap kitab tauhid dan sunnah-nya (amal-perbuatan manusia memang pasti berdasar segala isi pikirannya). Namun sebaliknya, pernyataan itu mestinya 'bukan' berupa anjuran, agar pemahaman dan pengamalannya bisa sesuai dengan makna tekstual-harfiahnya, sebagai makna yang paling sederhana, karena memang relatif paling mudah dan langsung diperoleh dari teks-teksnya.
Dari kenyataan kandungan isi kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi, yang memang sesuai dengan konteks keadaan umat saat disampaikan, agar umat bisa relatif amat mudah memahami dan mengamalkannya, serta juga dari amat banyaknya segala bentuk "contoh-perumpamaan simbolik", bagi uraian atas hal-hal gaib dan batiniah (hanya semata analogi-pendekatan, dan bukan uraian yang sebenarnya).
Maka pemahaman secara tekstual-harfiah semata atas tiap ajarannya, justru amat tidak memadai, dan bahkan bisa menjadikan agama Islam 'bukan' agama yang universal, bagi seluruh umat manusia sampai akhir jaman. Serta paling parahnya, pemahaman secara tekstual-harfiah semata tentunya bisa mengkerdilkan, membekukan atau membinasakan agama Islam. Na'udzubillah.
Wallahu a'lam bishawwab.
Ya Allah, hanya Engkau pemilik segala kebenaran dan kesempurnaan. Sedangkan hanya kami hamba-hamba-Mu pemilik segala keterbatasan, kekurangan, kekeliruan dan kesalahan. Karena itulah, kami memohon segala ampunan dan taubat kepada-Mu. Hanya kepada-Mu kami pasti kembali dan mestinya berserah-diri, atas segala urusan kami.
Wassalam.
Artikel / buku terkait:
Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"
Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"
Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)
Download terkait:
Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)
Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)
Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)
Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)
Tiada Kami mengutus Engkau (Muhammad), melainkan untuk seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui
(Q.S. Saba[34] : 28)
Islam merupakan agama universal, ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia yang berlaku di setiap tempat dan masa. Islam merupakan agama yang memiliki keseimbangan orientasi hidup, yaitu kehidupan dunia dan akhirat. Penamaan Islam sebagai agama, langsung diberikan oleh Allah melalui wahyu-NYA (Al-Quran). Sementara itu, pemberian nama agama lain yang berkembang di dunia senantiasa diidentifikasikan kepada orang atau tokoh yang membawa ajaran tersebut, atau daerah tempat agama itu lahir.
Universalisme Islam terintegritas dan terkodifikasi dalam akidah, syariah, dan akhlak. Antara satu dan yang lainnya terdapat nisbat atau hubungan yang saling berkaitan dan kesemuanya berfokus dan menuju pada keesaan Allah atau bertauhid. Ajaran tauhid inilah yang menjadi inti, awal, dan akhir dari seluruh ajaran Islam[ 1].
Islam itu sendiri, secara totalitas, merupakan suatu keyakinan bahwa nilai-nilai ajarannya adalah benar dan bersifat mutlak karena bersumber dari Yang Mahamutlak. Dengan demikian, segala yang diperintahkan dan diizinkan-Nya adalah suatu kebenaran, sedangkan segala sesuatu yang dilarang-Nya adalah kebatilan.
Di samping itu, Islam merupakan hukum atau undang-undang (syariah) yang mengatur tata cara manusia dalam berhubungan dengan Allah (vertikal) dan hubungan antarsesama manusia (horizontal).
Di dalamnya mencakup dua bidang pembahasan, yaitu
pertama bidang ibadah mahdah yang meliputi tata cara shalat, puasa, zakat, dan haji.
Kedua, bidang ibadah ghair mahdah yang meliputi muamalat, munakahat, siyasat, jinayat, dan sebagainya. Sebagai standar dan ukuran dalam pelaksanaannya merujuk pada hukum yang lima yang disebut Ahkam Al-Khamsah, yaitu, wajib, haram, mubah, mandhub, dan makruh. Penerapan kelima hukum tersebut dalam kehidupan sehari-hari memiliki variasi dan pelaksanaannya bersifat fleksible melalui ijtihad yang disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan zaman. Aspek syariah ini disosialisasikan oleh aspek akhlak yang meliputi cara, tata kelakuan, dan kebiasaan dalam bersosialisasi dan berinteraksi, baik yang berhubungan dengan ekonomi, politik, berkeluarga, bertetangga, dan sebagainya.
Ketiga aspek tersebut dalam operasionalnya bersumber kepada Al-Quran dan Sunnah Rasul. Dua pokok inilah yang mengatur kehidupan manusia dengan cermat, baik yang berhubungan dengan Allah, maupun yang berhubungan dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Kemudian dilakukan ijtihad untuk menetapkan hukum bagi persoalan-persoalan yang tidak terdapat secara eksplisit dalam Al-Quran dan sunnah Rasul, sebagai hasil ketetapan para ulama yang dikodifikasi dalam ilmu fiqih.
Seluruh ajaran tersebut, baik akidah maupun syariah dan akhlak, bertujuan membebaskan manusia dari berbagai belenggu penyakit mental-spiritual dan stagnasi berpikir, serta mengatur tingkah laku perbuatan manusia secara tertib agar tidak terjerumus ke lembah kehinaan dan keterbelakangan, sehingga tercapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Sinkronitas dan integritas dari ketiga aspek tersebut, terlihat universalisme dan universalitas Islam dengan misinya sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia.
Atas dasar itulah, muncul diktum Islam sebagai agama yang sempurna. Kesempurnaannya terlihat dalam ajaran-ajarannya yang bersifat universal dan fleksible (luas dan luwes) serta mengharuskan terciptanya keseimbangan hidup antara duniawi dan ukhrawi, jasmani dan rohani. Sebab, kehidupan duniawi yang baik harus dijadikan media untuk mencapai kehidupan rohani yang baik. Sebaliknya, kehidupan rohani yang baik harus dijadikan media untuk memenuhi kehidupan jasmani yang baik, legal, dan halal serta di bawah ridha Allah. Oleh karena itu, Islam merupakan kekuatan hidup yang dinamis, juga merupakan suatu kode yang sesuai dan berdampingan dengan tabiat alam, dan merupakan kode yang meliputi segala aspek kehidupan insani.
Salah satu ciri yang menonjol dalam konsep Islam adalah adanya prinsip keseimbangan (Yin-Yang) dan keharmonisan hidup. Islam adalah agama lahir dan batin, serta agama dunia dan akhirat. Keharmonisan ini karena Islam sesuai dengan bentuk dan jenis penciptaan alam raya yang menggambarkan keseimbangan, seperti yang diungkapkan Al-Quran dengan istilah Fithrah karena sifat fithrah itu sendiri adalah seimbang atau harmoni. Langit dan bumi adalah ciptaan Allah yang seimbang sehingga dapat terjadi harmoni di alam raya, seperti matahari, bulan, planet-planet yang menjadikan bumi berputar secara teratur dan melahirkan iklim dan cuaca yang seimbang sehingga layak dihuni manusia.
Keseimbangan ini merupakan ciri fithrah Allah pada umumnya. Demikian pula dengan fithrah manusia yang seimbang antara fisik dan jiwa, lahir dan batin, akal dan hati, sebagaimana dalam alam, ada langit dan bumi, siang dan malam, dan sebagainya. Kelestarian alam dan manusia juga terletak pada keseimbangan. Bumi akan tetap ada apabila antara daratan dan lautan, dataran rendah dan gunung-gunung tetap seimbang. Keseimbangan di bumi akan menyeimbangkan pula daya tarik menariknya dengan planet-planet lain sehingga tidak terjadi benturan yang dapat menghancurkan segalanya. Demikian pula, keseimbangan pada diri manusia. Manusia akan tetap terjaga kesehatannya apabila terjaga keseimbangannya antara bekerja dan istirahat, lahir dan batin, akal dan hati, bekerja dan ibadah, dunia dan akhirat[ 2].
Keseimbangan dan keharmonisan ajaran Islam mengandung implikasi bahwa Islam selalu berada pada garis tengah, tidak ekstrim pada salah satu pandangan, tidak materialistis, dan tidak pula sosialis. Islam memandang hidup secara utuh dan seimbang antara realita dan idealita. Kehadiran Islam menjadikan umatnya sebagai saksi yang berada di garis tengah terhadap seluruh realitas kehidupan.
Berbeda dengan agama lainnya yang memisahkan hidup manusia secara tegas bahwa agama hanya berkaitan dengan masalah penyembahan saja. Islam tidak hanya mengetengahkan urusan individu penganutnya, melainkan juga urusan masyarakat, negara, bahkan hubungan antarbangsa.
Islam tidak membedakan ras, suku, dan bangsa. Ia diturunkan Allah untuk seluruh manusia dari bangsa dan golongan mana pun. Orang-orang Barat sering kali menyamakan Islam dengan Arab, seolah-olah Islam itu sama dengan Arab. Padahal keterkaitan Islam dengan Arab hanya terbatas pada sejarah dan bahasa, yaitu Nabi Muhammad SAW., pembawanya, dari Arab dan Al-Quran sebagai kitab sucinya diturunkan Allah dalam bahasa Arab. Di luar itu, Islam tidak identik dengan Arab. Ajaran Islam mendorong lahirnya umat multiras, etnik, dan golongan, tetapi memiliki satu kebanggaan yang menyatukan semuanya. Ikatan yang memperkokoh kesatuan dirinya adalah tauhid. Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka jika mereka konsisten tidak akan melahirkan perpecahan.
Islam mengembangkan kesatuan dan kesamaan, baik kesetaraan gender maupun ras dan etnik. Oleh karena itu, Islam sangat membenci diskriminasi gender dan diskriminasi rasial. Konsep persamaan yang terkandung dalam ajaran Islam melahirkan sikap saling menghargai (demokrasi) yang menjadi salah satu ciri umat Islam. Menghargai orang lain, baik fisik, kondisi maupun pendapatnya juga merupakan salah satu ciri dari demokrasi. Saling menghargai dalam tatanan umat Islam merupakan suatu keharusan yang menjadi ciri dalam komunikasi sehari-hari.
Umat Islam bukanlah kelompok yang tertutup (ekslusif), tetapi kelompok yang sangat terbuka terhadap pihak lain bahkan terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar sepanjang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Ajaran Islam sangat adaptif terhadap budaya masyarakat, bahkan pada waktu tertentu dapat mengadopsi nilai-nilai budaya (urf) sebagai bagian dari ajaran Islam. Dengan demikian, umat Islam merupakan masyarakat yang terbuka dan dinamis serta selalu berorientasi pada masa depan yang lebih baik tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi dasar pijakannya.
Agama Islam adalah agama yang menebarkan perdamaian, persaudaraan, dan persamaan.
Oleh karena itu, hal-hal yang dapat menjadi pemicu lahirnya ketidakstabilan dan permusuhan antar manusia harus dihindari. Salah satu yang tidak diperkenankan dalam ajaran Islam adalah pemaksaan satu kelompok kepada kelompok lain. Agama bagi Islam adalah keyakinan yang harus datang dari kesadaran diri terhadap eksistensi dan kekuasaan Tuhan. Apa yang baik dan buruk sudah sangat jelas diperlihatkan Allah dalam ayat-ayat-NYA, baik yang tersurat dalam Al-Quran maupun yang tersirat dalam alam ciptaan Tuhan. Manusia tinggal melihat, memahami, mempercayai dan meyakininya melalui proses berpikir yang benar. Islam mendorong umatnya untuk bekerjasama dalam berbagai segi kehidupan dengan siapa saja, termasuk dengan umat beragama lain sepanjang kerja sama dilakukan untuk kebaikan. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang harus berusaha untuk saling menguntungkan dan tidak melanggar hukum. Umat Islam dituntut untuk melakukannya dengan baik dan adil.
DR. Aidh Al-Qarni dalam bukunya yang berjudul LA TAHZAN (JANGAN BERSEDIH!), menyatakan, Sungguh menderita manusia yang tidak memahami Islam dan tak mendapat petunjuk untuk memeluknya. Islam membutuhkan promosi dari kaum muslimin dan orang-orang yang mendukungnya. Islam butuh iklan yang mendunia. Sebab Islam adalah sebuah kabar agung. Dan seruan kepada Islam, hendaknya sesuatu yang bermutu: bernilai tinggi, sistematis dan penuh daya tarik. Sebab kebahagiaan manusia tak akan ditemukan, kecuali dalam agama yang benar dan abadi ini. Manusia zaman sekarang kerap bingung. Mereka sangat membutuhkan agama yang agung ini agar mereka bisa menikmati rasa aman, kedamaian dan ketenangan.
Dr. Ahmad Al-Mazyad : Islam adalah satu-satunya agama yang telah menggariskan metode kehidupan secara utuh. Di dalamnya diatur segala urusan dan segala aspek kehidupan. Ia bukan metode bikinan manusia yang mengandung unsur benar dan salah, akan tetapi metode Illahi yang dapat mengantarkan orang yang mengikutinya kepada kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman jiwa di dunia, serta sukses meraih surga dan menggapai kenikmatan abadi pada hari kiamat. Allah SWT. Berfirman : Kami tidak menyia-nyiakan sesuatupun dalam al-Kitab (Al-Quran)
Drs. H. Syafruddin Amir, MM menulis dalam bukunya yang berjudul HIV/AIDS dalam solusi Islam : Sejak lama berbagai solusi telah dikeluarkan untuk mengatasi gerak laju HIV/AIDS. Bagi mereka yang berisiko tinggi melalui kontak seksual, disarankan untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Solusi ini mengundang kontroversi karena dianggap melegalkan perzinaan. Bahkan, pakar kejiwaan, seperti Prof. Dr. Dadang Hawari, terkenal gencar menentang solusi tersebut. Dalam salah satu pernyataannya, ia mengatakan bahwa virus HIV lebih kecil dibandingkan pori-pori kondom. Adapun bagi pengguna narkotika suntik, kerapkali didengung-dengungkan solusi bahwa penggunaan jarum suntik tidak dilakukan secara bersama-sama. Jarum suntik hanya boleh digunakan oleh pribadi yang bersangkutan. Namun, sekali lagi solusi ini juga mengundang kontroversi karena bagaikan mengesahkan penggunaan narkotika di kalangan masyarakat. Di luar tingkat keberhasilannya, sejatinya kedua solusi tersebut hanya berjangka pendek. Ibarat pohon yang terkena parasit, hanya dipotong dahan dan dedaunannya yang tampak kering, tidak keseluruhannya, tidak juga mencapai akar-akarnya sehingga tak heran apabila bagian lain pun bisa segera terkena parasit. Berbagai solusi telah ditawarkan, baik oleh para cendekiawan maupun ahli medis bahwa untuk mengatasi penyebaran dan gerak laju HIV/AIDS, seperti yang telah diuraikan tadi, mulai dari penggunaan kondom bagi yang berisiko tinggi, menghindari penggunaan jarum suntik secara bersama-sama bagi pengguna narkoba, hingga berbagai alternative lainnya.
Namun, hal itu selalu saja mengundang kontroversi dan perbedaan sudut pandang. Mengapa hal itu bisa terjadi? Sekali lagi, solusi yang ditawarkan tersebut jelas tidak menyentuh akar masalah yang dihadapi, tetapi hanya bersifat jangka pendek. Padahal, solusi yang dibutuhkan adalah bagaimana caranya menghindarkan masyarakat dari penyakit HIV/AIDS tersebut dengan pola hidup yang baik, benar, beradab, bukan memberi solusi dengan memunculkan masalah baru. Misalnya, menggunakan kondom mungkin aman, tetapi apa jadinya kalau prostitusi malah semakin menjadi-jadi. Atau, menggunakan jarum suntik hanya untuk pribadi dan sekali pun memang aman, namun bagaimana jika dengan hal itu penggunaan narkoba jenis suntik malah menjadi marak. Belum lagi kita bisa memperoleh vaksin atau obat yang bisa mengatasi HIV/AIDS, masalah sosial baru sudah pasti akan timbul. Dalam hal ini, untuk mengatasi sesuatu, harus dicari faktor penyebab utamanya. Karena itu, di sinilah titik tolak solusi itu ditawarkan.
Jika faktor penyebab itu tidak dikaji lebih dulu, tindakan apa pun yang dilakukan hanya akan bersifat sementara. Kita lihat bahwa sebagian besar penyebab HIV/AIDS adalah karena berhubungan seks di luar nikah atau faktor berzina. Karena itu, upaya untuk menanggulanginya yang efektif adalah mencegah perzinaan itu sendiri. Mustahil dapat diatasi jika zina itu mewabah di tengah-tengah masyarakat, apabila dilegalkan dengan membuat lokalisasi. Karena itu, sebaiknya kita mencegahnya daripada mengobati. Artinya, menghilangkan sebab lebih baik dari mengobati penyakit yang diakibatkan oleh sebab itu sendiri
Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya yang berjudul ESQ, menulis : Prinsip-prinsip yang tidak Fitrah umumnya berakhir dengan kegagalan, baik kegagalan lahiriyah ataupun kegagalan batiniah. Dunia telah membuktikan bahwa prinsip yang tidak sesuai dengan suara hati atau mengabaikan hati nurani, hanya mengakibatkan kesengsaraan atau bahkan kehancuran. Prinsip-prinsip buatan manusia itu sebenarnya adalah suatu upaya pencarian dan coba-coba manusia untuk menemukan arti hidup yang sebenarnya. Mereka umumnya hanya memandang suatu tujuan dari sebelah sisi saja, tidak menyeluruh, sehingga akhirnya menciptakan suatu ketidakseimbangan, meskipun pada akhirnya keseimbangan alam telah terbukti menghempaskan mereka kembali. Mereka biasanya merasa paling benar, tanpa menyadari bahwa sisi lain dari lingkungannya yang juga memiliki prinsip yang berbeda dengan dirinya. Hanya berprinsip pada sesuatu yang abadilah yang akan mampu membawa manusia ke arah kebahagiaan hakiki. Berprinsip dan berpegang teguh pada sesuatu yang labil, niscaya akan menghasilkan sesuatu yang labil pula
Dr. H. Syamsu Yusuf, LN. M.Pd. dalam bukunya yang berjudul MENTAL HYIGIENE Pengembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama menulis : Terkait dengan dampak ditinggalkannya agama terhadap kehidupan manusia, Tarmizi Taher dalam ceramahnya yang berjudul Peace, Prosperity, and Religious Harmony in The 21 century: Indonesian Muslim Perspektives di George town AS, mengemukakan bahwa akibat disingkirkannya nilai-nilai agama dalam kehidupan modern, kita menyaksikan semakin meluasnya kepincangan sosial, seperti : merebaknya kemiskinan, dan gelandangan di kota-kota besar; mewabahnya pornografi dan prostitusi; HIV/AIDS; meratanya penyalahgunaan obat bius, kejahatan terorganisasi, pecahnya rumah tangga hingga mencapai 67 i negara-negara modern; kematian ribuan orang karena kelaparan di Afrika dan Asia, di tengah melimpahnya barang konsumsi di sementara bagian belahan dunia utara (Suara Pembaharuan, 27 Nopember 1997).
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA (Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama RI), mengatakan : Agama adalah Solusi yang tepat bagi penanganan Korban narkoba. Penanggulangan masalah moral, sosial, dan kemanusiaan melalui program berbasis agama adalah solusi paling baik dan tepat untuk dilakukan dalam kondisi apa pun. Karena agama menjadi faktor penting dalam membangun watak, kepribadian dan kesalehan bagi umat manusia
RM. Lambertus Somar MSC : Recovery plan (rencana perawatan) pecandu perlu holistik, menyangkut raganya, mentalnya, rohaninya, dan sosialnya. Agama menyentuh manusia dalam dimensi rohaninya dan mengarahkannya kepada Tuhan serta hidup selepas kematian. Agama menawarkan syalom atau kepenuhan damai sejahtera yang mencakup masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, termasuk hidup pasca dunia. Spiritualitas memberikan artikulasi pada pengkhayatan nilai-nilai hidup dan sekaligus determinasi untuk merubah diri
Carl G. Jung (Ahli Psikoanalisis dari Jerman) mengemukakan sebagai berikut : Selama tiga puluh tahun yang lalu, pribadi-pribadi dari berbagai bangsa di dunia telah mengadakan konseling denganku dan akupun telah banyak menyembuhkan pasien, tidak kudapatkan seorang pasien pun diantara pasien yang telah berada pada penggal kedua umur mereka, yakni dari 35 tahun yang problem esensialnya bukan kebutuhan akan wawasan agama tentang kehidupan.
Arnold Toynbee (sejarawan Inggris) mengemukakan bahwa krisis yang diderita orang-orang Eropa pada jaman modern ini pada dasarnya terjadi karena kekeringan rohaniah, dan terapi satu-satunya bagi derita yang sedang mereka alami ialah kembali kepada agama.
Zakiah Daradjat (1982 : 58) mengemukakan bahwa apabila manusia ingin terhindar dari kegelisahan, kecemasan, dan ketegangan jiwa serta ingin hidup tenang, tentram, bahagia dan dapat membahagiakan orang lain, maka hendaklah manusia percaya kepada Tuhan dan hidup mengamalkan ajaran agama. Agama bukanlah dogma, tetapi agama adalah kebutuhan jiwa yang perlu dipenuhi.
Henry Link (ahli ilmu jiwa Amerika) menyatakan bahwa berdasarkan pengalamannya yang lama dalam menerapkan percobaan-percobaan kejiwaan atas kaum buruh dalam proses pemulihan dan pengarahan profesi, ia mendapatkan bahwa pribadi-pribadi yang religius dan sering mendatangi tempat ibadah menikmati kepribadian yang lebih kuat dan baik ketimbang pribadi-pribadi yang tidak beragama yang sama sekali tidak menjalankan suatu ibadah
Shelley E. Taylor (1994 : 227) mengemukakan beberapa hasil penelitian para ahli tentang dampak positif agama, atau keimanan kepada Tuhan terhadap kesehatan mental dan kemampuan mengatasi stress, yang diantaranya sebagai berikut :
Palaotzian & Kirkpatrick (1995) mengemukakan bahwa agama (keimanan) dapat meningkatkan kesehatan mental dan membantu individu untuk mengatasi stress.
Elisson (1991) mengemukakan bahwa agama dapat mengembangkan kesehatan psikologis banyak orang. Orang-orang yang kuat keimanannya kepada Tuhan lebih bahagia dalam hidupnya, dan lebih sedikit mengalami dampak negatif dari peristiwa kehidupan yang traumatik dibandingkan dengan orang-orang yang rendah keimanannya kepada Tuhan (tidak melaksanakan ajaran agama)
Koenig dkk (1988) mengemukakan bahwa banyak orang yang secara spontan melaporkan bahwa agama sangat menolong dirinya pada saat mengatasi stress.
McIntosh dkk (1993) telah melakukan penelitian terhadap para orang tua yang kehilangan anaknya, karena kematian secara tiba-tiba, dengan melihat dua hal, yaitu : keyakinannya bahwa agama sebagai sistem keyakinan dan keaktifannya di gereja. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka dapat menerima kenyataan tersebut secara wajar. secara lebih khusus, mereka mendapatkan dukungan sosial, dan lebih mampu mengambil hikmah (makna) dari peristiwa kehilangan tersebut.
McCullough dkk (2000) mengemukakan bahwa keyakinan beragama dapat memperpanjang usia.
Seybold & Hill (2001) agama itu bukan hanya sebagai bagian hidup yang bermakna, tetapi juga memberikan keuntungan dalam mengembangkan mental yang sehat.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa agama mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan mental individu. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa individu tidak akan mencapai atau memiliki mental yang sehat tanpa agama.
Ibnu Al-Qayyim : Ada hal lain dari petunjuk Rosul, yang bila dibandingkan dengan ilmu kedokteran tenaga medis pada umumnya, seperti perbandingan ilmu kedokteran dengan ilmu pengobatan orang-orang awam. Hal ini sudah diakui oleh kalangan cerdik pandai dan tokoh-tokoh ilmu kedokteran yang ada. Sebagian di antara mereka menyatakan bahwa ilmu kedokteran yang mereka miliki adalah analogi. Ada juga yang berpendapat bahwa ilmu kedokteran mereka adalah eksperimen. Ada juga yang berani mengatakan bahwa ilmu kedokteran mereka adalah wangsit dan prediksi yang tepat. Ada juga yang menyatakan bahwa banyak dari ilmu kedokteran diadopsi dari hewan ternak. Seperti yang kita lihat bahwa kucing-kucing hutan apabila sempat memakan binatang-binatang beracun segera mendekati pelita dan menjilati minyaknya untuk mengobati dirinya. Kita juga bisa melihat ular yang baru keluar dari dalam tanah kalau pandangan matanya kabur, segera mendekati daun razyang lalu mengelebatkan matanya di depan daun tersebut. Seperti juga seekor burung yang suhu tubuhnya terlalu panas segera membenamkan diri ke dalam laut. Dan banyak lagi contoh lain yang disebutkan dalam dasar-dasar ilmu kedokteran. Bagaimana mungkin semua teori kedokteran semacam itu bisa dibandingkan dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rosul-NYA yang menjelaskan apa yang mendatangkan manfaat dan mendatangkan bahaya.
Perbandingan antara ilmu kedokteran yang mereka miliki dengan wahyu seperti perbandingan antara ilmu-ilmu yang mereka miliki dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para nabi. Bahkan ajaran para nabi mengandung unsur pengobatan terhadap banyak penyakit yang belum bisa diungkap oleh otak para pakar ilmu kedokteran terhebat sekalipun; belum bisa dicapai oleh pengetahuan, eksperimen dan analogi mereka. Yakni pengobatan penyakit hati dan penyakit ruhani, memperkuat ketahanan jiwa, rasa bersandar dan tawakal kepada Allah, berpulang kepada hukum-NYA, merendahkan diri di hadapan-NYA, selalu bersedekah, berdoa, bertaubat, istighfar, berbuat baik kepada sesama, menolong orang susah, menghilangkan kesulitan orang lain dan sebagainya. Semua bentuk pengobatan ini telah dicoba oleh berbagai bangsa dengan segala jenis agama mereka, ternyata mereka mendapatkan bentuk-bentuk pengobatan semacam itu memiliki pengaruh untuk kesembuhan dalam batas yang tidak pernah dicapai pengetahuan medis di kalangan dokter dengan segala eksperimen dan analogi mereka.
Mengikuti Jalan Islam tidak sesulit yang dibayangkan oleh orang-orang. Banyak pula orang-orang Barat yang kita kagumi nasihatnya disadari atau tidak ternyata mereka juga mengembangkan ajaran Islam. Contohnya adalah seperti cerita nara sumber buku Mukjizat Gerakan Sholat, Steven Covey mengembangkan 7 kebiasaan yang sangat efektif dalam meningkatkan kualitas hidup kita, bahkan sekarang telah menjadi 8, dengan tambahan Keagungan sebagai habit yang menembus wilayah Illahiyah. Kursus yang menghabiskan biaya besar ini pernah diikuti nara sumber, dan dapat sertifikat serta plakatnya, ternyata sangat sederhana dan membuat kita menjadi malu, karena sama persis dengan ajaran Islam.
Gerakan mengangkat kedua tangan- takbirotul ihram dalam sholat apabila dikembangkan ternyata hasilnya sangat baik untuk mengembalikan dan membangkitkan semangat seperti bagian dari teknik guncang bumi-nya Tung Desem Waringin. Jika kita mencari kebaikan dan kebenaran, pasti akhirnya sesuai dengan ajaran Islam. Islam adalah agama Universal dan untuk segenap manusia. mungkin Penjelasan satu ayat Al-Quran atau Hadis Nabi yang membingungkan di suatu negeri, ada di negeri yang lain, ada di suku bangsa lain, atau ada di manusia yang lain. Karena itu kita harus saling mengenal. Misalnya, untuk mengetahui bahwa pengamalan ajaran Islam menyehatkan Fisik, mental dan lingkungan hidup, salah satu caranya adalah mempelajari ilmu kedokteran Tiongkok terutama Teori Wu Sing.
Belajar kepada yang kita anggap cendekiawan Muslim, bukan berarti kita bebas dari penyesatan. Belajar kepada non Muslim, bukan berarti mereka selalu dalam kesesatan; biasanya hanya aqidahnya saja yang kurang tepat. Hanya saja kita tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada Al-Quran dan Hadist (Sunnah). Al-Quran hanya setebal satu buku tapi membahas segalanya dan satu Hadist hanya sependek bait. menurut saya, memang sengaja dibuat begitu agar kita mau bersatu untuk mempelajari, memahami, mengembangkan, dan berusaha mencari penjelasannya dengan menjadikan Al-Quran dan Hadist sebagai penuntun.
Bagi non muslim yang ingin mengetahui lebih banyak informasi tentang Agama Islam, silahkan mengunjungi www.mualaf.com, www.muslimtionghoa.com, Atau Yayasan H Karim Oei yang beralamat di Jl Lautze 87 89 Pasar Baru Jakarta Pusat. No. Telepon 021-629-6086 dengan Ibu Hj. Anna
[ 1] James Arthur Ray pernah tampil bersama dan melakukan presentasi bersama para ahli keberhasilan dan peningkatan diri yang paling hebat di Amerika Serikat- termasuk orang-orang terkemuka seperti : Zig Ziglar, Robert Schuller, Robert Kiyosaki, Tonny Robbins, Brian Tracy, Denis Waitley, Harv Eker, Howard Putnam, Jack Canfield, dan Jhon Gray. Dalam bukunya yang berjudul The Science of Success Rahasia sukses dengan memanfaatkan hukum-hukum universal, menulis : Saya telah mencari prinsip-prinsip yang membuat orang-orang berhasil, sehingga kita semua dapat menggunakan prinsip-prinsip itu agar kita menjadi orang yang kita inginkan, untuk memberikan konstribusi unik kita kepada dunia, dan untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan impian kita. Saya telah menghabiskan dua puluh tahun untuk mempelajari beberapa dari orang-orang yang paling berhasil di dunia : orang-orang yang berhasil bukan hanya secara finansial dan dalam bisnis, tetapi juga dalam kehidupan pribadi, sosial, dan spiritual. Saya membaca segala sesuatu yang saya dapatkan, dari naskah-naskah kuno sampai filsafat, psikologi, spiritualitas kontemporer, dan bahkan fisika kuantum. Karunia saya adalah menjadi seseorang yang menyatukan dan mengajarkan. Saya telah menerima semua informasi dan melakukan riset ini, dan memperhatikannya dari sudut kehidupan orang-orang yang berhasil dan pengalaman saya sendiri bekerja dengan orang-orang. Buku The Science of Succsess adalah hasilnya. Ilmu sukses membuat prinsip-prinsip universal keberhasilan menjadi tersedia bagi semua orang dan praktis. Setiap orang di atas muka bumi ini dapat menerapkan ilmu ini, dan ilmu ini akan membuat mereka berhasil setiap saat. Itu karena Ilmu sukses bekerjasama dengan hukum universal, hukum yang mendasar dan kuat sama seperti hukum gravitasi. Jika Anda menggunakan hukum ini, saya jamin Anda akan berhasil- setiap waktu, dan dalam usaha apa pun yang Anda lakukan- sama pastinya dengan sebuah pensil akan jatuh ke bawah dan bukan ke atas ketika Anda melepaskannya. Orang-orang yang menang dan sukses secara konsisten menerapkan hukum dan prinsip-prinsip ini, baik secara sadar maupun tidak. Setelah Anda memahami Ilmu sukses, Anda dapat memilih menggunakannya secara sadar. Dengan demikian, Anda menjamin keberhasilan Anda.
[ 2] Kesehatan dan kebahagiaan adalah hasil dari hidup selaras dengan alam, sementara penyakit adalah akibat dari tindakan, pikiran, dan hidup dalam pola yang tidak selaras. Jika, karena kemauan kita, kita memilih untuk tidak selaras dengan lingkungan kita, penyakit akan terjadi sebagai suatu proses alamiah untuk memulihkan keseimbangan. Oleh karena itu, cara paling fundamental untuk menyembuhkan penyakit adalah mengembalikan diri kita ke arah kondisi yang selaras dengan alam semesta (Michio Kushi, Pakar Makrobiotika Dunia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar